persecuted.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
壊れた、
拷問された、
迫害された.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ

ㅤ
ㅤ
ㅤ
Birth Name :
吉田絵里
Romanji :
Yoshida Eri
Kanji :
吉田絵里
Nick Name :
Eri
Gender :
Female
Place of Birth :
Tokyo, Japan
Date of Birth :
9th April, 1996
Nationality :
Japanese
Religion :
-
Blood Type :
A
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ

ㅤ
ㅤ
ㅤ
Height :
170 cm
Weight :
49 kg
Face Shape :
Oval
Skin Tone :
Fair
Nose Type :
Greek
Eyes Type :
Round
Eyes Colour :
Black
Hair Type :
Long/Short and Straight.
Hair Colour :
Dark
Lip Shape :
Downturned Lips
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
Background Story
ㅤ
Hidup milik Yoshida Eri memang tidak pernah berjalan dengan mulus. Sejak lahir, menjadi korban dari ketidakharmonisan keluarga.
Tinggal di lingkungan yang kumuh, tanpa bisa menempuh pendidikan yang wajar. Korban pembullyan dikarenakan kondisi finansial.
Selepas lulus sekolah menengah atas, tidak sama sekali ada niat untuk melanjutkan jenjang pendidikannyaㅡ sehingga mau tak mau, ia mencari pekerjaan kecil-kecilan untuk membantu kondisi finansial keluarga.
Tepat di akhir tahun 2016ㅡ Ibunya meninggal dunia akibat sakit keras. Ayahnya menjadi pemabuk berat, bahkan bermain judi.
Sang Ayah yang sudah terjerat hutang (yang nominalnya luar biasa besar), tanpa belas kasih, ia menjual putri satu-satunya kepada sebuah rumah prostitusi.
Benci? Jelas. Sangat, malahan. Rasa benci di dalam hati Eri terhadap Ayahnya: tidak terbatas besarnya.
Tentu saja, ia menjadi pemberontak saat mengijak rumah prostitusi itu. Namun, untungnya ia tidak dijadikan pelacur karna tubuhnya yang kurus kering bagai tengkorak.
Sebaliknya, ia menjadi pembantu di tempat maksiat itu. Mau tak mau, demi sesuap nasi dan tempat tinggal ber-atap, Eri berjuang.
Setahun setelahnya, Eri mulai tahan banting bekerja disana. Ia sudah mulai terbiasa membereskan kamar dan mencuci seprai yang berbau spermaㅡ ya, sekeras itu hidupnya.
Peraturan di rumah itu sangat ketat, Eri tidak boleh keluar dari tempat itu. Benar-benar tidak boleh. Jadi, hidupnya sungguh terbatas.
ㅤㅤㅤ. . .
Eri tengah membereskan salah satu kamar di sana, hingga penampakan seorang pria ber-jas menunjuk ke arahnya.
“Aku mau dia.” ucap pria itu.
Eri secara refleks memundurkan langkahnya, sarung bantal di tangannya jatuh ke lantai. Lari, itu lah yang di pikirkan Eri sekarang. Tidak, ia tidak mau menjadi boneka orang-orang jahanam itu!
Usaha Eri berujung sia-sia, ia tertangkap. Berusaha memberontak? Sudah dilakukan oleh Eri. Ia tidak tahu apa-apa, yang jelas: ia merasakan sakit luar biasa di kepalanya sebelum semua pandangannya menjadi gelap.
ㅤㅤㅤ. . .
Ia terbangun di sebuah ruangan dengan dominasi warna putih.
“Sudah bangun?”
Eri ingin berteriak, namun terhalangi oleh sebuah kain yang mengganjal mulutnya.
“Tenang, Cantik. Aku tidak akan menyakitimu.”
Memberontak, hanya itulah yang dilakukan oleh Eri. Walaupun suaranya tidak dapat terdengar jelasㅡ ia terus meminta agar dilepaskan.
Setelah 7 jam terperangkap, akhirnya Eri lelah. Ia diam.
Si pria itu menghampirinya, menawari segelas air putih. Eri menolak.
“ ... Kau harus minum. Kau ingin aku melepas ikat tanganmu?”
Eri mengangguk.
Iba, mungkin. Hingga si pria itu akhirnya melepaskan ikatan tangan yang menghalangi gerak Eri.
Tepat setelah ikatan terlepas, Eri meraih gelas kaca yang terletak di nakas dan melemparnya ke wajah si pria.
Pria itu meraung kesakitan akibat pecahan kaca yang menusuk kornea matanya, kesempatan itu Eri gunakan untuk kabur. Namun, ia tidak tahu denah tempat ia beradaㅡ untuk kedua kalinya: ia tertangkap.
ㅤ
ㅤ
ㅤ








